Berita

Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), UGM

Program Pascasarjana Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo bekerja sama dengan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada (UGM) akan menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Agama di Tengah Krisis Lingkungan: Peran Institusi Keagamaan di Indonesia”. Kegiatan ini akan berlangsung pada Kamis, 23 Juli 2026, pukul 13.00 WIB, bertempat di Ruang Multipurpose, Gedung Pascasarjana Lantai 3 UNSIQ.

Seminar nasional tersebut dihadirkan sebagai ruang akademik untuk mendiskusikan hubungan antara agama dan persoalan lingkungan yang semakin kompleks di Indonesia. Sebagai negara dengan masyarakat yang dikenal religius, Indonesia pada saat yang sama masih menghadapi berbagai persoalan ekologis, seperti kerusakan hutan, pencemaran lingkungan, serta meningkatnya dampak perubahan iklim.

Persoalan tersebut mendorong pentingnya kajian dan refleksi mengenai sejauh mana agama dan institusi keagamaan dapat mengambil peran dalam membangun kesadaran serta etika ekologis di tengah masyarakat. Forum ini juga menjadi ruang untuk mempertanyakan apakah institusi agama selama ini telah memberikan perhatian yang memadai terhadap tanggung jawab pelestarian lingkungan, atau masih lebih banyak berfokus pada dimensi ritual dan moral individual.

Seminar menghadirkan sejumlah akademisi, praktisi, dan pemerhati isu lingkungan serta keagamaan. Mark Woodward dijadwalkan memberikan special remarks, sementara sesi special talks menghadirkan Farid Gaban, penulis buku Reset Indonesia; Zainal Abidin Bagir, dosen CRCS UGM; dan Lutfan Muntago, dosen Program Pascasarjana UNSIQ. Kehadiran para narasumber tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam melihat hubungan agama, masyarakat, dan krisis lingkungan dari berbagai sudut pandang.

Melalui seminar ini, Program Pascasarjana UNSIQ bersama CRCS UGM berupaya membangun ruang dialog akademik yang kritis dan konstruktif mengenai kontribusi institusi keagamaan dalam menghadapi tantangan ekologis. Diskusi diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat mendorong lahirnya pemikiran dan praktik keagamaan yang semakin responsif terhadap persoalan lingkungan.

Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan UNSIQ tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik dan jejaring kerja sama kelembagaan dalam merespons berbagai persoalan sosial dan lingkungan. Dengan mengangkat isu agama dan krisis lingkungan, seminar ini diharapkan dapat membuka kesadaran baru bahwa tanggung jawab menjaga kelestarian alam merupakan bagian penting dari kehidupan sosial, moral, dan keagamaan masyarakat.

Seminar Nasional “Agama di Tengah Krisis Lingkungan: Peran Institusi Keagamaan di Indonesia” terbuka bagi masyarakat akademik dan peserta yang memiliki perhatian terhadap isu agama, lingkungan, dan keberlanjutan. Melalui forum tersebut, UNSIQ dan CRCS UGM berharap dapat mempertemukan berbagai gagasan untuk memperkuat peran institusi keagamaan dalam membangun kepedulian ekologis di Indonesia.